JAKARTA, kabarbisnis.com: Proyeksi penjualan mobil baru di Indonesia untuk tahun 2025 diprediksi akan mengalami kontraksi, dengan angka yang diperkirakan tidak mampu menembus batas 800 ribu unit. Penurunan itu tidak terjadi tanpa sebab. Dari kacamata industri, pelemahan pasar merupakan akumulasi dari berbagai tekanan yang datang bersamaan dan saling memengaruhi.
Kondisi makroekonomi, termasuk inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang belum optimal, menjadi faktor tekanan paling awal yang dirasakan pelaku industri. Ketika daya beli masyarakat melemah, keputusan membeli kendaraan baru otomatis tertahan.
"Kalau nanya faktor utamanya, itu memang banyak sekali faktor-faktornya. Yang pertama itu mungkin keadaan ekonomi," kata Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Yohannes Nangoi, dikutip Selasa (6/1/2026).
Selain ekonomi, persoalan pembiayaan juga disebut menjadi penekan utama penjualan. Struktur pasar otomotif Indonesia yang sangat bergantung pada kredit membuat sektor ini sensitif terhadap perubahan kebijakan dan kondisi lembaga pembiayaan.
"Yang kedua itu memang di pembiayaan. Ya karena kan tujuh puluh persen lebih itu kan kendaraan bermotor itu kredit. Nah kalau pembiayaan ada permasalahan atau kurang kondusif dia mendukung itu, itu kan berdampak sekali," kata Nangoi.
Tekanan lain datang dari kebijakan di tingkat daerah yang mulai dirasakan dampaknya oleh industri. Implementasi Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) progresif dan pajak rokok pajak dinilai menambah beban dan memunculkan kekhawatiran baru bagi pelaku usaha otomotif. Seperti diketahui, adanya kebijakan ini membuat pajak yang ditanggung masyarakat dalam pembelian mobil jadi lebih besar hingga jutaan rupiah.
"Terus yang juga sedikit mengkhawatirkan adalah implementasi Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) progresif dan pajak rokok. Ya di daerah Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) progresif dan pajak rokok itu," katanya.
Kombinasi berbagai faktor tersebut membuat pasar otomotif 2025 bergerak lebih berat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Industri pun berharap ada perbaikan iklim ekonomi, pembiayaan, dan kebijakan agar pasar kembali bergairah.
Di luar faktor makro dan kebijakan, Nangoi juga menyoroti persoalan di lapangan yang dinilai mengganggu ekosistem industri. Salah satunya adalah masuknya kendaraan impor yang tidak sepenuhnya mengikuti aturan teknis.
"Nah terus memang ada beberapa juga ya, beberapa juga kayak umpamanya impor kendaraan truk kayak gitu yang tidak pakai homologasi, yang digunakan di luar jalan raya itu kan, tapi semestinya kan pakai homologasi pakai itu," ujarnya.